Wednesday, 28 April 2010

Tangisan Seroja dan Bendera Setengah Tiang

Dili, 27 tahun lalu. Awan gelap berarak. Suara tembakan dari berbagai sudut kota gencar gemuruh. Para pejuang Fretilin aktif menembak ke udara ketika penerbang-penerbang pesawat Hercules milik RI terjun dari pesawat. Melenggang-lenggok seperti penari samba, menghindari serangan bertubi semburan peluru yang berterbangan di sekitar mereka. Tapi prajurit-prajurit Kostrad yang umumnya baru pertama kali diterjunkan ke dalam pertempuran itu dengan gagah melayang di udara.

Begitulah pemandangan Dili saat itu. Saat operasi seroja, operasi militer gabungan pasukan ABRI bersama para pejuang partisan menyerbu Dili, Minggu 7 Desember 1975. Dan situasi yang dipotret dengan jelas oleh Muhammad Saleh Kamah, wartawan kantor berita Antara Cabang Palu (Sulteng) saat ditugaskan meliput operasi Seroja, dalam sebuah buku berjudul Seroja yang diterbitkan di tahun 1999.

Penyerbuan itu dilakukan sesudah Fretilin secara sepihak memproklamasikan kemerdekaan Republik Demokrasi Timor Timur tanggal 28 November 1975. Fretilin berani melakukan proklamasi, karena Portugal-yang sudah menjajah selama 400 tahun terakhir-lari meninggalkan Dili, minggat ke Pulau Atauro pada akhir Agustus 1975.

Peristiwa itu menuai kecaman. Sidang Dewan Keamanan PBB 12 Desember 1975 mengecam Indonesia. Namun sejumlah negara seperti Australia mendukung upaya Indonesia karena bisa memahami stabilias regional yang dijadikan prinsip Indonesia. Dewan Keamanan PBB pun mengadakan pemungutan suara sesudah operasi gabungan berlangsung. Dan Amerika Serikat pun berpihak pada Indonesia.

Dan kisah yang sudah berlangsung seperempat abad lebih ini seperti mengiris kembali luka lama. Begitu banyak korban jatuh dan mati sia-sia. Baik dari pasukan gabungan, pejuang integrasi, Fretilin, dan penduduk biasa ketika pertempuran pecah dan berlangsung dengan brutal, kejam serta amat menakutkan.

Namun toh, bagi para prajurit, kebanggaan dan kehormatan menghilangkan rasa pedih kehilangan bagian dari tubuh. Atau kerelaan yang tulus kehilangan sang suami. Yang terpenting, mereka pergi demi kehormatan negara.

Tapi itu seperempat abad yang lalu. Kini, bagi 400 kepala keluarga di Wisma Seroja Bekasi, kisah kehormatan itu seperti sebuah luka yang diiris sembilu. Apalagi melihat tempat darah tertumpah itu telah menjadi negara merdeka, lepas dari wilayah republik. Kepedihan itu semain menyayat mendengar kabar Presiden Megawati akan ke Timor Loro Sae. " Hati ini rasanya seperti dicabik-cabik" kata Nunu Suhaenah, seorang warakawuri yang ditemui Koran Tempo, kemarin.

Masih terbayang di benak Suhaenah, bagaimana suaminya tewas mengenaskan dalam pertempuran itu. "Tubuhnya rusak, kepalanya dijadikan bola sepak," kata Suhaenah. Suhaenah pun mengaku tak tahu lagi bersikap, kecuali menangisi realitas pahit yang harus dihadapinya.

Sepertinya Suhaenah, Ellen, 53 tahun pun merasakan kepedihan. Janda prajurit ini harus membanting tulang dengan membuka warung guna membesarkan anaknya. Tak hanya kepedihan kepergian sang suami yang gugur dalam tugas, tetapi ia tak bisa lagi ke Dili untuk berziarah ke kubur suami. " Bagaimana mau pergi? Kuburan itu sudah dibuldozer" ucapnya pedih.

Politik memang bagi Suhaenah dan Ellen memang terasa membingungkan. Tapi setidaknya sebuah penghargaan atas kehormatan kepergian sang suami, menjadi sebuah impian. Kalau pun Mega harus tetap berangkat, sebaiknya itu diartikan sebagai sebuah penghormatan kepada para pahlawan Seroja, dan bukan penghormatan terhadap pejuang Timor Loro Sae atau Xanana.

Kekecewaan atas keputusan Mega berangkat ke Dili memang tak bisa ditutupi. Sebagai symbol protes, seluruh pemukiman veteran di kompleks perumahan Seroja, Kampung Bulak Macan, Harapan Jaya, Bekasi Utara dan di sejumlah kota seperti Malang, Bandung dan Solo, sepakat mengibarkan bendera setengah tiang, beberapa hari menjelang dan saat upacara proklamasi kemerdekaan Timor Loro Sae, 20 Mei mendatang. "Ini symbol penentangan kepada Bu Mega," kata Letkol Deden Nugraha, pembina warga Wisma Seroja Letkol Deden Nugraha.

Pengibaran bendera setengah tiang untuk menggugah hati nurani Megawati. Barangkali, inilah momen terakhir yang tepat kepada dunia luas, kebijakan politik itu kerap menelan korban. Salah satunya adalah mereka.

Bagaimana pun kata Ketua Veteran Wisma Seroja Sersan Mayor Sukoro, kemerdekaan Timtim masih melukai batin para pejuang Seroja dan fisiknya. Karenanya, menurut Sukoro, alangkah bernilainya jika Mega pada hari bersejarah itu justru menyambangi kompleks penyandang cacat dan warakawuri. "Kami ini korban penembakan Xanana, tapi kenapa Ibu Mega harus ke sana (Timor Lorosae)?" Tanya Sukoro.

Pengibaran bendera menurut Deden adalah ekspresi kekecewaan mendalam terhadap ketidakadilan oleh pihak-pihak yang merancang kemerdekaan Timor Loro Sae.Kekecewaan itu semakin mendalam ketika pemerintah tak tegas untuk menganulir kecurangan dan penghianatan yang dilakukan PBB dan UNTAET.

Deden yang paru-parunya terluka akibat serpihan pesawat Fretlin di pertempuran Matabean di tahun 1978 itu mengaku iklas Mega pergi ke Dili, jika sebelumnya Presiden berdialog dulu dengan mereka. Keluarga yang menjadi korban, warakawuri dan pengungsi Timor Timur.

Tapi bekas prajurit Batalyon 328 Kostrad ini menilai, presiden memperhitungkan bagaimana itikad baik negara tetangganya itu. "Jika mereka tidak menuntut HAM, kami akan merasa hormat atas kepergian ibu Megawati ke Timor Lorosae," katanya.

Karenanya, menurutnya, urusan ceremonial itu cukup mewakilkan Menlu Hassan Wirajuda atau Menkopolkam. Menurut dia, alangkah bermanfaatnya jika dana itu untuk mensejahterakan para pengungsi atau para penyandang cacat dan keluarga pahlawan yang sangat memerlukan. Atau memindahkan kuburan para pahlawan Seroja yang masih ada di bumi Timor Lorosae
Read More :

280 Px

280 Px

280 Px

ShoutMix chat widget

seroja

  © Blogger templates The Transformers by Blog Tips And Trick 2009